Bonsai dan lingkungan hidup   1 comment

Bonsai tak pernah lepas dari arti dan makna kelestarian lingkungan hidup, namun sering juga bonsai dijadikan sebagai biang keladi kerusakkan lingkungan hidup. Pada dasarnya saya sendiri tidak menyetujui alasan tersebut, karena tidak semua pecinta bonsai yang berburu bakalan di alam menelantarkan bekas galian. Banyak juga diantara mereka yang menggantinya dengan pohon yang baru, walaupun tanaman tersebut berbeda jenisnya.

Jika dilihat keuntungannya, malah lebih baik kita ambil sebagai bonsai daripada mati di alam dan pohon tersebut harus berakhir sebagai kayu bakar saja. Keuntungan yang didapat adalah adanya penggantian pohon di lokasi dengan pohon yang baru, dan bonggol yang nota bene hanya tinggal tunggu waktu kematiannya akan terselamatkan. Bukankah itu merupakan sebuah keuntungan?

Oleh karena itulah, saya mencoba menyerukan kepada semua para pecinta bonsai yang biasa berburu bakalan ke hutan, lebih baik anda juga membawa setidaknya 5 pohon pengganti untuk bakalan yang diambil dari alam. Ini berguna untuk mencegah adanya Erosi yang mungkin terjadi dan sedikitnya menghindarkan kita dari fitnahan telah merusak lingkungan hidup. Keuntungan menanam pohon atau reboisasi kecil kecilan tersebut, selain kita terhindar dari fitnah telah merusak alam, kitapun akan dipercaya oleh fihak terkait (kehutanan). Jika kita menanam pohon kembali di tempat yang pohonnya telah diambil, maka kitapun telah ikut melestarikan hutan tersebut yang pada akhirnya kerusakan alam bisa dihindari.

Banyak diantaranya para peneliti yang meminta stek dari tanaman bonsai karena kelangkaannya, mereka mencoba membibitkan kembali tanaman langka tersebut untuk penelitian dan pemurnian genetik. Banyak diantara para polisi hutan (Jagawana) yang melarang pengambilan bonggol yang sudah jelas tinggal tunggu waktu mati, padahal jika dimanfaatkan sebagai bonsai tentu akan lebih baik. Selain kelestarian terjaga karena pada tempat tersebut diganti pohon baru, kitapun turut melestarikan keberadaan pohon tersebut hingga bisa kita selamatkan dari kematiannya. Bukankah hal itu akan lebih baik daripada bonggol tersebut mati dan diambil tanpa ada penggantian dengan pohon baru?

Namun saya sendiri menyadari juga sich, masih banyak diantara kita yang suka berburu bahan bonsai di alam sering sekali melupakan penggantian pohon tersebut hingga akhirnya kondisi yang ada sekarang ini terjadi. Namun tidak lah salah jika kita mulai dengan diri sendiri untuk disiplin menanam kembali pohon yang telah kita ambil tersebut, tentulah tindakan itu lebih mulia daripada hanya sekedar omong kosong belaka.

Semoga…

One response to “Bonsai dan lingkungan hidup

Subscribe to comments with RSS.

  1. Sebenarnya regulasi tentang berburu sudah di atur oleh PPBI (konsep ambil 1, tanam 1) syukur2 bisa lebih dari 1 pohon sebagai gantinya. Tapi harus di akui masih banyak teman2 pemburu bakalan yang kurang mematuhi aturan ini, namun saya yakin lambat laun teman2 pemburu bakalan (khususnya anggota PPBI) akan menyadari betapa pentingnya kelestarian lingkungan hidup.
    Saya sepakat dan salut dengan ajakan Sdr. Nugi; mari kita mulai dengan diri sendiri untuk disiplin menanam kembali pohon yang telah kita ambil tersebut, demi keberlangsungan alam ini, janganlah kita tambah beban penderitaan Bumi kita yang sedang sakit ini.
    Wassalam

    Ichwanuddin Lutfi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: